Jakarta, Ekoin.co – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Basel Agency for Sustainable Energy (BASE) untuk memperluas pembiayaan proyek efisiensi energi di Indonesia.
Penandatanganan nota kesepahaman ini berlangsung di Jakarta pada 2025 sebagai bagian dari komitmen mendukung transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Kerja sama tersebut difokuskan pada pengembangan pembiayaan Proyek Efisiensi Energi (Energy Efficiency/EE) melalui model de-risking.
Model ini menggabungkan kontrak standar, validasi teknis independen, serta asuransi performa berupa surety bond untuk menekan risiko pembiayaan.
Inisiatif ini diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan hijau di Indonesia. BSI dan BASE menilai bahwa pembiayaan efisiensi energi masih memerlukan skema yang adaptif dan terukur agar dapat menjangkau lebih banyak proyek.
Pelaksanaan proyek EE dilakukan melalui pendekatan Energy Savings Insurance (ESI). Model ESI ini dirancang untuk memberikan perlindungan atas potensi kegagalan pencapaian penghematan energi, sekaligus meningkatkan kepercayaan lembaga keuangan.
Wakil Direktur Utama BSI Bob T Ananta menyampaikan bahwa inisiatif ini sejalan dengan agenda nasional. “Melalui inisiasi Energy Savings Insurance (ESI) ini, kami harapkan dapat mendukung Indonesia dalam mengimplementasikan transisi ekonomi rendah karbon dan mendukung tercapainya target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060,” ujar Bob.
Ia menegaskan bahwa kerja sama ini mencerminkan konsistensi BSI dalam menjalankan prinsip keberlanjutan. Menurut Bob, pendekatan tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang perseroan.
“Komitmen ini menandai konsistensi perusahaan untuk mengimplementasikan aspek Environmental, Social, & Governance (ESG) dalam bisnis operasional serta memberikan dampak nyata terhadap pembiayaan berkelanjutan,” kata Bob.
Komitmen Pembiayaan Berkelanjutan
BSI terus mengembangkan berbagai program dan produk ramah lingkungan. Langkah ini ditujukan untuk mewujudkan visi perusahaan sebagai The Best Global Islamic Bank Based on Implementation of Sustainable Finance.
Hingga September 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan BSI tercatat mencapai 24,60% dari total pembiayaan. Nilai tersebut setara Rp73,16 triliun yang telah disalurkan ke berbagai sektor berkelanjutan.
Selain pembiayaan, BSI juga melakukan penerbitan Sukuk Sustainability. Tahap pertama diterbitkan senilai Rp3 triliun pada 2024, kemudian disusul tahap kedua senilai Rp5 triliun pada 2025.
Penerbitan sukuk tersebut menjadi bagian dari strategi pendanaan hijau BSI. Dana yang dihimpun dialokasikan untuk mendukung proyek-proyek berkelanjutan, termasuk energi bersih dan efisiensi energi.
Berbagai inovasi keberlanjutan juga telah dijalankan BSI dalam beberapa tahun terakhir. Inisiatif tersebut mencakup penguatan tata kelola ESG hingga peningkatan pembiayaan berbasis lingkungan.
Kolaborasi dan Dukungan Internasional
Nota kesepahaman kerja sama ditandatangani oleh SVP of ESG BSI Rima Dwi Permatasari dan Sustainable Finance Senior BASE Pablo Osés Bermejo. Penandatanganan ini menjadi tonggak awal kolaborasi kedua lembaga.
Prosesi tersebut disaksikan langsung oleh Wakil Direktur Utama BSI Bob T Ananta. Hadir pula Wakil Menteri Kementerian Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal EBTKE KESDM, Kepala Badan Standardisasi Kementerian Perindustrian, serta Departemen Surveilans dan Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi OJK.
Kerja sama ini menjadi bagian dari program UK PACT atau UK Partnering for Accelerated Climate Transitions. Program tersebut merupakan pendanaan kerja sama internasional antara Pemerintah Inggris dan Pemerintah Indonesia.
UK PACT dijalankan melalui dukungan British Embassy Jakarta bersama Direktorat Jenderal EBTKE KESDM. Program ini bertujuan mempercepat transisi Indonesia menuju ekonomi rendah karbon.
Dengan adanya MoU ini, BSI dan BASE memperkuat kolaborasi lintas sektor. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat implementasi pembiayaan efisiensi energi di tingkat nasional.
Dari sisi BASE, kerja sama ini memperluas penerapan model ESI di Indonesia. BASE melihat potensi besar pembiayaan efisiensi energi dengan pendekatan mitigasi risiko yang terstruktur.
Kolaborasi ini juga membuka peluang pengembangan produk pembiayaan hijau baru. Model ESI dapat menjadi referensi bagi lembaga keuangan lain dalam mengembangkan skema serupa.
BSI menilai sinergi dengan BASE akan memperkuat peran perbankan syariah dalam agenda keberlanjutan. Melalui pembiayaan efisiensi energi, dampak lingkungan dan ekonomi dapat berjalan beriringan.
Ke depan, implementasi kerja sama ini diharapkan mendorong percepatan proyek efisiensi energi di berbagai sektor industri dan infrastruktur. Langkah tersebut sejalan dengan target nasional penurunan emisi.
Sebagai penutup, BSI mendorong pelaku usaha untuk memanfaatkan skema pembiayaan efisiensi energi. Akses pembiayaan yang lebih terukur dapat meningkatkan minat investasi hijau.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor perlu terus diperkuat agar implementasi proyek berjalan optimal. Dukungan regulasi dan teknis menjadi faktor penting keberhasilan.
Masyarakat diharapkan memperoleh manfaat tidak langsung dari efisiensi energi. Penggunaan energi yang lebih hemat dapat mendukung keberlanjutan ekonomi nasional.
Pemerintah dan sektor keuangan memiliki peran strategis dalam mempercepat transisi energi. Sinergi kebijakan dan pembiayaan akan menentukan capaian target emisi.
Dengan kerja sama ini, BSI menegaskan komitmennya terhadap pembiayaan berkelanjutan. Langkah tersebut diharapkan memberi kontribusi nyata bagi agenda iklim Indonesia. (*)
Berlangganan gratis WA NEWS EKOIN lewat saluran Whatsapp EKOIN di : https://whatsapp.com/channel/0029VbAEmcR6mYPIvKh3Yr2v





