Jakarta, Ekoin.co – Nama psikolog anak Seto Mulyadi atau yang akrab disapa Kak Seto kembali menjadi perbincangan hangat di ruang publik.
Kali ini, sorotan tidak hanya tertuju pada kiprahnya sebagai tokoh perlindungan anak, tetapi juga pada polemik lama yang menyeret isu hak cipta karakter legendaris Si Komo.
Perdebatan itu mencuat setelah sebuah akun media sosial mengunggah utas yang mempertanyakan keaslian penciptaan tokoh naga hijau yang telah dikenal anak-anak Indonesia sejak era 1970-an tersebut.
Dalam unggahan itu disebutkan bahwa Si Komo bukanlah karya orisinal Kak Seto, melainkan diduga memiliki kemiripan kuat dengan konsep boneka edukatif milik seorang seniman senior lintas disiplin.
Karakter Si Komo sendiri selama puluhan tahun identik dengan dunia pendidikan anak, khususnya dalam kampanye cinta lingkungan dan nilai-nilai moral.
Namun, tudingan tersebut memicu spekulasi bahwa desain, konsep pertunjukan, hingga pendekatan edukasinya dianggap meniru karya yang lebih dahulu hadir di panggung seni nasional.
Bahkan, dalam narasi yang beredar, disebutkan pernah terjadi upaya hukum terkait dugaan penjiplakan, yang diklaim hampir dimenangkan oleh pihak pencipta awal.
Meski demikian, proses tersebut konon terhenti tanpa kejelasan, diduga karena intervensi kekuatan politik pada masanya.
Isu ini tidak berhenti pada visual karakter. Sejumlah pihak juga menyoroti kesamaan tema lagu dan metode pendidikan lingkungan yang dikaitkan dengan pengalaman Kak Seto menghadiri sebuah lokakarya seni pada periode sebelumnya.
Identitas seniman yang dimaksud pun menjadi teka-teki publik. Petunjuk yang beredar mengarah pada figur kreator populer era 1980-an, yang dikenal lewat karya musik bernuansa nostalgia sekolah.
Nama Tommy Soemarni kemudian ikut disebut dalam diskursus warganet, meski belum ada konfirmasi resmi.
Kontroversi ini semakin mendapat perhatian karena muncul bersamaan dengan kritik terhadap peran Kak Seto dalam sejumlah isu perlindungan anak.
Akumulasi persoalan tersebut membuat integritas figur publik ini kembali dipertanyakan di mata masyarakat.





