Jakarta, Ekoin.co — Nilai tukar rupiah kembali tertekan mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS, namun Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kondisi ekonomi Indonesia tetap solid dan siap mendukung pertumbuhan lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.
Dalam kunjungan ke KPP Madya Jakarta Utara, Kamis (22/1/2026), Purbaya menyatakan pelemahan rupiah kali ini bukan tanda krisis.
Ia menekankan bahwa stabilitas domestik terjaga berkat koordinasi ketat antara kebijakan fiskal dan moneter.
Menurutnya, kinerja pasar modal yang positif menjadi indikator optimisme investor global terhadap perbaikan struktural ekonomi Indonesia.
“Indeks harga saham gabungan yang hijau menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia sehat. Hal ini akan memicu aliran investasi asing langsung (FDI) sepanjang 2026,” ujar Purbaya.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengakui tekanan rupiah juga dipengaruhi permintaan valas tinggi dari korporasi domestik, termasuk BUMN seperti Pertamina dan PLN.
Faktor eksternal seperti eskalasi geopolitik dan kebijakan tarif Amerika Serikat turut menambah volatilitas.
Perry juga menyebut sentimen pasar terhadap proses suksesi di internal BI memberikan pengaruh tersendiri terhadap pergerakan nilai tukar.
Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan kesiapan penuh menjaga rupiah melalui intervensi pasar berskala besar.
Dengan cadangan devisa mencapai US$156,5 miliar per akhir Desember 2025, BI memiliki ruang manuver yang luas untuk menjaga stabilitas nilai tukar, jauh di atas standar kecukupan internasional.
Perry menambahkan bahwa BI akan memastikan rupiah bergerak dalam koridor yang mendukung kestabilan ekonomi nasional, sekaligus memberikan kepercayaan bagi pelaku pasar domestik maupun investor global.





