Jakarta, Ekoin.co – Amerika Serikat kembali meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah dengan mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln beserta kelompok tempurnya ke kawasan tersebut.
Sejumlah pejabat AS menyebut armada itu diperkirakan tiba dalam beberapa hari ke depan, di tengah dinamika hubungan Washington–Teheran yang masih penuh ketidakpastian.
Langkah ini diambil tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan telah membatalkan rencana serangan lanjutan terhadap Iran.
Meski demikian, pengerahan aset militer berskala besar dinilai menunjukkan kesiapsiagaan Washington menghadapi potensi eskalasi baru di kawasan.
Kelompok Tempur USS Abraham Lincoln diketahui telah berlayar dari kawasan Asia-Pasifik sejak pekan lalu, seiring meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran menyusul gelombang protes besar di sejumlah wilayah Iran pada akhir 2025 hingga awal 2026.
Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran internasional terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan Reuters, pejabat AS juga menyebutkan kemungkinan penempatan tambahan sistem pertahanan udara di wilayah tersebut.
Amerika Serikat kerap meningkatkan postur militernya ketika tensi regional naik, yang oleh sebagian analis dinilai sebagai langkah defensif, meski berpotensi dibaca berbeda oleh pihak lawan.
Dalam beberapa pernyataan sebelumnya, Trump sempat melontarkan ancaman keras terhadap Iran terkait penanganan protes dalam negeri.
Namun, seiring meredanya demonstrasi dalam sepekan terakhir, nada pernyataan Trump juga cenderung melunak.
Fokus politik luar negerinya pun mulai bergeser ke isu lain, termasuk ambisi geopolitik di kawasan Arktik.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan mentoleransi kelanjutan program nuklir Iran.
Ia mengingatkan bahwa Washington siap kembali bertindak apabila Teheran melanjutkan aktivitas pengayaan uranium tingkat tinggi.
Situasi ini diperumit oleh laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang belum melakukan verifikasi langsung terhadap stok uranium Iran selama lebih dari tujuh bulan.
Iran dilaporkan memiliki ratusan kilogram uranium yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata nuklir, sebuah kondisi yang memicu kekhawatiran serius komunitas internasional.
Di dalam negeri Iran, kelompok HAM melaporkan ribuan korban jiwa akibat kerusuhan selama gelombang protes, meski angka pasti masih terus diverifikasi.
Kondisi tersebut menambah tekanan politik dan diplomatik terhadap pemerintah Iran di tengah sorotan global yang kian intens.





