Jakarta, ekoin.co – Pengamat politik Citra Institute Yusak Farchan menilai retreat kabinet pemerintahan Prabowo di Padepokan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/2), perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Sebab, retreat untuk pembantu presiden itu dinilai penting, bukan hanya untuk menyelaraskan visi-misi dan program pemerintahan, tetapi juga untuk bahan evaluasi.
“Retreat kabinet saya kira bagus, kalau perlu dilakukan secara berkelanjutan,” kata Yusak kepada ekoin.co di Jakarta, Selasa (6/1).
Yusak melihat, dalam satu tahun pemerintahan Prabowo, banyak menteri yang terlihat masih saling sikut, saling menyalahkan, dan terlihat tidak seirama dengan presiden.
“Jadi retreat saya kira perlu untuk memperkokoh fondasi atas manajemen pemerintahan yang profesional dan berorientasi pada kepentingan rakyat luas,” kata Yusak.
Sementara itu, dalam retreat di Hambalang, Presiden Prabowo Subianto menekankan kembali visi besar pemerintahannya yang poin-poinnya terangkum dalam buku “Strategi Transformasi Bangsa”.
Poin-poin substansi dari “Strategi Transformasi Bangsa” itu kemudian dipaparkan kembali dalam Taklimat Awal Tahun 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh anggota Kabinet Merah Putih, kepala badan, pimpinan lembaga, Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, dan kepala staf dari tiga matra TNI.
Dalam taklimat tersebut, Presiden Prabowo menegaskan kemandirian bangsa di berbagai sektor merupakan salah satu poin mendasar dalam strategi transformasi bangsa.
“Bangsa Indonesia harus mandiri. Tidak ada bangsa yang merdeka bilamana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyatnya,” kata Presiden kepada jajaran pembantunya di Kabinet dan seluruh pejabat negara yang hadir.
Sejumlah program prioritas telah dilaksanakan pemerintah untuk membangun kemandirian bangsa itu seperti swasembada pangan dan swasembada energi. (*)





