Jakarta, Ekoin.co – Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Komisaris Jenderal Purnawirawan Polisi Dharma Pongrekun mengingatkan masyarakat Indonesia soal kemungkinan terjadinya cyber pandemic atau pandemi siber, seperti yang pernah terjadi di Estonia pada 2007.
Saat itu, negeri di pesisir timur Laut Baltik tersebut sampai mengalami kelumpuhan karena pemadaman listrik total. Kondisi yang mirip juga dialami sejumlah negara Eropa Selatan seperti Spanyol, Portugal, dan Prancis pada tahun lalu.
“Ketika terjadi pencurian data di Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) (pada 2024 lalu), saya sudah pernah menyampaikan, Hati-hati kalau suatu saat internet mati, di-shut down, atau istilahnya blackout. Nah ternyata kondisi itu terjadi di negara lain seperti Estonia. Ini menunjukkan bahwa digitalisasi bahaya sekali, karena kita bisa dikontrol dari jauh,” ujar Dharma saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 21 Januari 2026, dikutip Jumat (23/1).
Sebelumnya viral dalam sebuah siniar, Dharma mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan perlengkapan lengkap jika menghadapi situasi darurat pemadaman listrik dan internet selama tujuh hari.
Kandidat Gubernur DKI dalam pilkada 2024 itu menjelaskan, situasi darurat itu bisa menyebabkan listrik mati, ATM tidak berfungsi, tidak ada air bersih, sehingga bisa melumpuhkan aktivitas masyarakat. Penjelasan Dharma itu sempat memicu kepanikan warganet di media sosial.
Menurut Dharma, situasi seperti blackout di berbagai belahan bumi bisa terjadi karena ada kekuatan besar yang mengontrol seluruh aspek kehidupan warga dunia.
Ia mencontohkan pesawat Malaysia Airlines MH370 yang mengangkut 227 penumpang dan 12 kru, yang hilang dari radar setelah lepas landas dari bandara Kuala Lumpur pada Maret 2014.
“Ini kayak main PlayStation. Pesawat Malaysia itu bisa dibikin mendarat, tidak mendarat. Sama seperti mobil listrik (yang bisa dikontrol). Makanya sekarang mobil listrik di mana-mana banyak,” katanya.
Adapun kondisi saat ini di Indonesia, disebut Dharma seperti autopilot. Karena kita selalu menelan mentah-mentah dan tidak bisa melawan skenario global. Bahkan saat negara lain seperti Belanda dan Jerman sudah memberi himbauan pada warganya untuk bisa bertahan hidup di tengah krisis lewat booklet berisi manual, masyarakat Indonesia belum mendapatkan hal serupa.
Karena itu, pria berdarah Toraja ini mengimbau masyarakat untuk berlatih atau mempersiapkan diri bertahan jika tiba-tiba terjadi shutdown listrik dan internet.
“Kita ingat zaman masih pakai lampu petromaks, memasak dengan tungku api, menimba air di sumur dengan ember, ya bersiaplah seperti itu,” ujar Dharma.
“Makanya kita harus cerdas. Saya bukannya menakut-nakuti. Justru saya memberikan early warning. Sedia payung sebelum hujan tak ada salahnya,” sambungnya.
Dharma menilai, manusia saat ini sudah dikondisikan untuk bergantung pada listrik dan internet, sehingga tidak bisa berkutik tanpa keduanya.
“Kenyamanan dan ketergantungan itu jebakan Batman. Karena apa? Karena kendalinya ada pada mereka yang menjadi panitia dari permainan dan agenda ini,” kata dia. (*)





