Indef Wanti-wanti Dampak Konflik AS vs Iran, Berdampak ke Indonesia Lewat 3 Kanal, Salah Satunya Energi
Jakarta, Ekoin.co – Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran di Timur Tengah berisiko memperlebar defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia. Institute for Development of Economics and Finance (Indef), pun meminta Pemerintah Indonesia menyiapkan strategi menghadapinya.
Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman menyatakan dampak ekonomi dari konflik AS-Israel dengan Iran akan masuk ke Indonesia melalui kombinasi tiga kanal utama, yaitu energi, keuangan, dan logistik.
Yang disorot Rizal adalah risiko gangguan pasokan di kawasan Teluk, terutama di jalur vital Selat Hormuz, dapat menaikkan premi risiko minyak dan LNG dunia yang berdampak langsung pada biaya impor energi Indonesia.
“Bagi Indonesia yang masih berstatus net-importir minyak dan LPG, kenaikan harga global ini akan cepat mendorong inflasi melalui kenaikan ongkos transportasi, listrik, dan logistik pangan,” ujar Rizal.
Rizal menambahkan pelemahan rupiah akibat fase risk-off global –ketika modal keluar dari pasar negara berkembang– akan memperburuk tekanan. Kondisi ini membuat impor energi dalam rupiah semakin mahal.
Dari sisi fiskal, Rizal menjelaskan pemerintah menghadapi dilema antara menahan harga energi dengan konsekuensi subsidi membengkak, atau menyesuaikan harga domestik yang berisiko menekan daya beli masyarakat.
Menurut dia, kombinasi belanja negara yang naik, penerimaan melemah, dan biaya pembiayaan yang lebih mahal ini berpotensi memperlebar defisit APBN.
“Sehingga respons yang diperlukan adalah menjaga stabilitas nilai tukar, realokasi belanja non-prioritas, dan memperkuat perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran dibanding mempertahankan subsidi energi secara luas,” kata Rizal.
Diketahui, Kementerian Keuangan melaporkan APBN mencetak defisit sebesar Rp54,6 triliun atau 0,21 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per 31 Januari 2026, meski pendapatan negara tumbuh positif 20,5 persen (year-on-year/yoy). (*)























Tinggalkan Balasan