Jakarta, ekoin.co – Ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI), Fithra Faisal Hastiadi mengatakan optimistis target pertumbuhan ekonomi sebesar 8% bisa terealisasi. Angka itu merupakan target politik Presiden RI Prabowo Subianto untuk 2029.
Adapun pada kuartal ketiga 2025, ekonomi Indonesia tumbuh 5,04% year on year.
“Target itu bisa kita capai, tapi memang harus kerja keras,” kata Fithra saat berbincang dengan Eddy Wijaya dalam podcast EdShareOn yang tayang pada Rabu, 25 Desember 2025, yang dikutip Senin (29/12).
Advisor di PT Samuel Sekuritas Indonesia ini menjelaskan, untuk mencapai target 8%, Indonesia memerlukan investasi sebesar Rp10.000 triliun. Nilai investasi itu bisa diserap dari sejumlah sektor infrastruktur.
Yang pertama energi dengan target investasi Rp3.300 triliun, lalu teknologi komunikasi dan informasi (ICT) dengan Rp1.800 triliun, serta transportasi Rp1,300 triliun. Sektor lain yang juga bisa memperkuat arus investasi adalah air bersih dan sanitasi, serta housing atau properti.
Menurut Fithra, dari target Rp10.000 triliun, sebesar Rp3.000 triliun bisa disumbang investasi dari dalam negeri. Sedangkan 70% sisanya, diupayakan investasi datang dari mancanegara. Karena itulah, kata Fithra, selama ini Presiden Prabowo kerap bersafari ke luar negeri.
“Pak Presiden mencari kesempatan ekonomi supaya investasi bisa masuk ke Indonesia. Tidak hanya ke 1-2 negara, tapi juga ke negara-negara Eropa dan Arab. Ini adalah bagian dari diversifikasi trade and investment partner kita,” ujarnya.
Di sisi lain, Prabowo menyadari soal faktor yang sering menghambat gerak calon investor di Indonesia. Seperti kepastian hukum yang tak menentu, keamanan yang rentan, serta aturan yang berubah-ubah.
Fithra menjelaskan, Prabowo menaruh perhatian untuk perbaikan regulasi yang bisa mendorong investasi, agar bisa berjalan paralel dengan “pembangunan” kualitas manusia Indonesia.
Soal itu, Indonesia disebut Fithra bisa belajar dari Vietnam. Negeri Naga Biru itu relatif agresif dalam mendorong masuknya investasi. Terbukti pada kuartal ketiga 2024, pertumbuhan ekonominya mencapai 7,4% karena sokongan investasi asing dan ekspor.
“Ketika investor ingin masuk, Vietnam sudah menyediakan tanah dan sumber daya yang sudah terlatih. Jadi investor tinggal plug and play,” kata dia.
Seperti diketahui, Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau BKPM mencatat sepanjang 2014-2024, nilai investasi yang masuk ke Indonesia sebesar Rp9.100 triliun.
Sedangkan untuk tahun ini, realisasi investasi pada semester pertama mencapai Rp942,9 triliun atau hampir dari separuh target tahun 2025 yang sebesar Rp1.905,6 triliun.
“Tahun depan harus lebih baik karena menjadi momentum kita melakukan ekspansi lebih lanjut,” ujar Fithra.
Ia tak memungkiri, bencana banjir bandang dan longsor Sumatera akhir 2025 ini memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,05-0,1%. Sehingga pertumbuhan ekonomi kuartal empat 2025 yang semula diperkirakan mencapai 5,2%, terkontraksi menjadi 5,1%.
Namun Fithra meyakini kondisi ekonomi nasional akan pulih awal tahun depan, seiring dengan rekonstruksi dan rehabilitasi Sumatera.
“Presiden sudah turun ke Sumatera, pemerintah, kementerian-kementerian sudah ada di sana. Bahkan rapat kabinet terakhir juga berfokus pada pemulihan Sumatera,” tuturnya. (*)





