Iran Runtuh, Turki Mengintai: Gallant Sebut Israel Sedang Membuka Kotak Pandora di Timur Tengah
Ekoin.co – Mantan Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi Israel tidak semata berasal dari Iran, melainkan dari perubahan geopolitik yang mungkin muncul setelah kekuatan Teheran melemah.
Melalui sejumlah unggahan di media sosial X, Gallant menilai kekosongan kekuatan pasca-Iran justru dapat melahirkan aktor baru yang lebih sulit diprediksi dan berpotensi mengubah keseimbangan kawasan.
Menurutnya, operasi militer besar terhadap Iran tidak otomatis menghilangkan risiko keamanan bagi Israel. Sebaliknya, melemahnya pengaruh Teheran dikhawatirkan membuka ruang bagi kekuatan regional lain untuk tampil sebagai pemain dominan di Timur Tengah.
Peringatan tersebut merujuk pada konsep lama kebijakan luar negeri Israel yang dikenal sebagai Alliance of the Peripheries, strategi yang dirintis Perdana Menteri pertama Israel David Ben-Gurion. Doktrin ini bertumpu pada pembangunan aliansi dengan negara-negara non-Arab di kawasan untuk menghadapi tekanan politik dan militer dari negara-negara Arab.
Pada masa lalu, pendekatan tersebut diwujudkan melalui kerja sama strategis dengan Iran sebelum Revolusi 1979, Turki, dan Ethiopia. Namun perubahan politik regional membuat sebagian aliansi tersebut runtuh, sementara hubungan Israel dengan Turki kini dinilai semakin kompleks dan tidak lagi sepenuhnya sejalan.
Gallant menyebut Israel kini mengembangkan pendekatan baru yang kerap disebut sebagai reverse periphery doctrine, yakni memperkuat hubungan dengan negara-negara Mediterania seperti Yunani dan Siprus serta negara-negara Teluk sebagai penyeimbang pengaruh Iran dan Turki.
Ia menilai Turki justru berpotensi menjadi tantangan strategis yang lebih sulit dibanding Iran. Berbeda dengan Iran yang relatif terisolasi secara politik dan ekonomi, Turki merupakan anggota NATO dengan jaringan diplomatik luas, ekonomi yang terintegrasi dengan Eropa, serta kekuatan militer konvensional yang besar.
Faktor geografis juga menjadi perhatian utama. Meningkatnya pengaruh Turki di Suriah dinilai membawa posisi Ankara semakin dekat ke wilayah perbatasan Israel, sehingga dapat mengubah perhitungan strategis di kawasan dalam jangka panjang.
Dalam analisis Gallant, poros kekuatan Syiah yang selama ini dipimpin Iran dinilai mulai melemah, sementara konfigurasi kekuatan baru di dunia Sunni disebut tengah terbentuk dengan Turki sebagai salah satu aktor kunci.
Ia menilai beberapa pekan ke depan akan menjadi periode penentu bagi arah Timur Tengah pasca-Iran—apakah menuju keseimbangan kekuatan baru atau justru memasuki fase yang lebih berbahaya bagi Israel. Peringatan itu muncul di tengah meningkatnya konflik kawasan, setelah Israel mulai melancarkan serangan besar terhadap sejumlah target strategis di Iran yang berpotensi mengubah peta kekuatan Timur Tengah secara drastis.























Tinggalkan Balasan