Bandara Dubai dan Al Maktoum Tutup Total Akibat Serangan Rudal Iran, Lebih dari 700 Penerbangan Dibatalkan

Akmal Solihannoer Yudi Permana
Bandara Dubai dan Al Maktoum Tutup Total Akibat Serangan Rudal Iran, Lebih dari 700 Penerbangan Dibatalkan

Dubai, Ekoin.co – Dua bandara utama di Dubai menghentikan seluruh operasional penerbangan setelah serangan rudal dan drone yang diluncurkan Iran mengguncang kawasan Teluk pada Sabtu, 28 Februari 2026. Penutupan tersebut berdampak langsung pada lebih dari 700 penerbangan yang dibatalkan, baik kedatangan maupun keberangkatan.

Bandara Internasional Dubai dan Bandara Internasional Al Maktoum menghentikan aktivitas penerbangan hingga waktu yang belum ditentukan. Otoritas bandara menyatakan keputusan itu diambil demi keselamatan penumpang dan kru setelah situasi keamanan dinilai berisiko.

Dalam keterangan resmi yang dirilis manajemen Dubai Airports, disebutkan bahwa seluruh calon penumpang diminta tidak datang ke bandara dan segera berkoordinasi dengan maskapai masing-masing.

“Semua operasi penerbangan di Dubai International (DXB) dan Dubai World Central – Al Maktoum International (DWC) dihentikan sementara hingga pemberitahuan lebih lanjut,” demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.

Insiden tersebut menyebabkan kerusakan ringan pada salah satu concourse di Bandara Internasional Dubai. Pihak otoritas memastikan situasi dapat dikendalikan dengan cepat. Empat karyawan bandara dilaporkan mengalami luka-luka dan telah mendapatkan penanganan medis.

Sementara itu, di Abu Dhabi, serangan drone dilaporkan terjadi di Bandara Internasional Zayed. Seorang warga negara Pakistan dinyatakan meninggal dunia dan tujuh orang lainnya mengalami luka akibat insiden tersebut.

Selain area bandara, dampak serangan juga dirasakan di sejumlah titik lain di Uni Emirat Arab. Puing-puing rudal dan drone yang berhasil dicegat sistem pertahanan udara UEA jatuh di beberapa lokasi. Kebakaran dilaporkan terjadi di sekitar Burj Al Arab, kawasan Pelabuhan Jebel Ali, serta sejumlah gedung di Palm Jumeirah. Empat orang dilaporkan terluka dalam insiden di Palm Jumeirah.

Penutupan bandara terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Pada Sabtu dini hari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer gabungan terhadap Iran.

Serangan tersebut disebut sebagai langkah pre-emptif terkait program nuklir Teheran. Sebagai respons, Iran menembakkan rudal balistik dan drone ke sejumlah target di kawasan Teluk serta ke wilayah Israel.

Dampaknya meluas ke sektor penerbangan regional. Ruang udara Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman turut ditutup sementara. Qatar Airways menghentikan seluruh penerbangan dari dan menuju Doha. Di sisi lain, Etihad Airways menangguhkan penerbangan dari Abu Dhabi hingga pukul 14.00 waktu setempat pada Minggu, 1 Maret 2026.

Secara keseluruhan, lebih dari 1.800 penerbangan di kawasan Timur Tengah dibatalkan oleh berbagai maskapai. Tiga maskapai utama kawasan, yakni Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways, biasanya melayani sekitar 90.000 penumpang per hari melalui hub masing-masing.

Setidaknya 145 pesawat yang sedang menuju kota-kota seperti Tel Aviv dan Dubai terpaksa dialihkan ke bandara lain, termasuk Athena, Istanbul, dan Roma. Sejumlah penerbangan lainnya kembali ke bandara asal guna menghindari wilayah udara yang terdampak konflik.

Regulator keselamatan penerbangan Eropa, European Union Aviation Safety Agency, menerbitkan Buletin Informasi Zona Konflik untuk kawasan Timur Tengah dan Teluk. Dalam pemberitahuan tersebut dinyatakan terdapat “risiko tinggi bagi penerbangan sipil” di wilayah udara yang terdampak perkembangan situasi keamanan.

Pemerintah Uni Emirat Arab melalui Kementerian Luar Negeri menyampaikan kecaman atas serangan yang terjadi. Dalam pernyataannya, kementerian menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan nasional dan hukum internasional. UEA juga menegaskan haknya untuk mengambil langkah yang diperlukan guna menjaga keamanan dan stabilitas nasional, serta menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang meninggal dunia.

Hingga Minggu pagi waktu setempat, belum ada kepastian kapan operasional dua bandara di Dubai akan kembali normal. Otoritas setempat menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi keamanan sebelum mengambil keputusan lanjutan terkait pembukaan kembali ruang udara dan aktivitas penerbangan. ()

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini