Demi Kemandirian Obat, BRIN dan UNHAN Teken Kerja Sama
Jakarta, EKOIN.CO – Pusat Riset Bahan Baku Obat Tradisional (PRBOOT) BRIN resmi menjalin kerja sama strategis dengan Fakultas Farmasi Militer (FFM) Universitas Pertahanan (UNHAN) RI dalam rangka memperkuat pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia untuk obat tradisional. Penandatanganan kesepakatan berlangsung di Gedung Graha Widya Bhakti, Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie, Serpong, pada Jumat (03/07).
Kerja sama ini bertujuan untuk mendorong riset ilmiah terkait bahan baku obat dari tumbuhan Indonesia yang potensinya masih belum dimaksimalkan. Indonesia memiliki lebih dari 30.000 spesies tumbuhan, namun pemanfaatannya untuk bahan obat masih tergolong rendah.
Kepala Organisasi Riset Kesehatan BRIN, Indi Dharmayanti, dalam sambutannya menyoroti fakta bahwa 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih berasal dari impor. Ia menekankan pentingnya kolaborasi riset untuk meningkatkan kemandirian nasional di sektor farmasi.
“Jadi kolaborasi ini sangat strategis dalam riset bahan baku obat dan obat tradisional, kerja sama ini bisa meningkatkan kemandirian bahan baku obat,” ucap Indi Dharmayanti dalam sambutannya di acara tersebut.
Ia juga mengajak seluruh pihak untuk berinovasi dalam membranding jamu agar naik kelas menjadi obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka. Saat ini, jumlah fitofarmaka yang ada di Indonesia masih 20, jauh dari potensi hayati yang tersedia.
Kolaborasi Ilmiah untuk Ketahanan Nasional
Kepala PRBOOT BRIN, Sofa Fajriah, menjelaskan bahwa kerja sama ini merupakan komitmen bersama untuk mengembangkan kekayaan alam Indonesia menjadi produk obat yang unggul. Ia menyebut kerja sama ini mencakup berbagai aspek riset, mulai dari ekstraksi hingga publikasi ilmiah.
“Melalui ruang lingkup kerja sama mencakup ekstraksi, standarisasi, identifikasi senyawa aktif, formulasi, uji aktivasi biologis, dan publikasi, kami bisa mengembangkan produk riset yang unggul, aplikatif, dan berdampak pada masyarakat,” ungkap Sofa.
Ia menambahkan bahwa kemandirian produksi bahan baku obat sangat penting dalam mencapai ketahanan nasional. Riset yang berbasis potensi lokal akan menjadi fondasi kuat untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Dekan FFM UNHAN RI, Yahdiana Harahap, menyambut baik kolaborasi ini dan menilai sinergi dengan BRIN sangat relevan. Ia berharap kerja sama tersebut tidak hanya menjadi formalitas, melainkan menghasilkan karya nyata yang berdampak luas.
“Saya harap perjanjian kerja sama ini tidak hanya tidur, tapi jadi banyak menghasilkan sesuatu, menjadi payung bagi potensi penelitian ke arah kesehatan, yang tidak hanya untuk militer tetapi untuk masyarakat juga,” ujarnya.
Akses Ilmu dan Fasilitas Riset Bersama
Dalam pernyataannya, Yahdiana juga menyinggung sejarah pendirian Fakultas Farmasi Militer oleh Prabowo Subianto yang saat itu menaruh perhatian besar pada vaksin dan kemandirian bahan obat. Menurutnya, kolaborasi ini akan membuka peluang saling berbagi fasilitas dan keahlian.
“Di FFM ada kelompok bidang ilmu Farmakologi dan Toksikologi, Kimia Farmasi, Biologi Famasi yang terkait herbal, Farmasi Klinik, dan Farmasi Militer. Melalui kerja sama ini kita akan bisa saling berbagi fasilitas dan publikasi bersama,” ungkap Yahdiana Harahap.
Dengan latar belakang riset yang saling melengkapi, kedua lembaga berharap dapat menciptakan inovasi obat tradisional yang tidak hanya terstandar secara ilmiah, tetapi juga siap digunakan secara luas oleh masyarakat.
Kolaborasi ini menandai langkah penting untuk memperkuat sektor kesehatan nasional dari dalam negeri, seiring dengan upaya peningkatan kapasitas riset dan pengembangan fitofarmaka yang berbasis pada biodiversitas lokal.
Kerja sama antara PRBOOT BRIN dan Fakultas Farmasi Militer UNHAN RI membuka peluang baru dalam pengembangan riset bahan baku obat berbasis kekayaan alam Indonesia. Melalui pendekatan ilmiah dan sinergi antarlembaga, diharapkan akan lahir produk-produk farmasi unggul yang mampu menggantikan ketergantungan pada bahan impor.
Komitmen bersama ini juga menunjukkan pentingnya sinergi antara riset sipil dan militer untuk kebutuhan kesehatan nasional yang lebih luas. Dukungan fasilitas, sumber daya manusia, serta fokus pada publikasi ilmiah menjadi fondasi utama dari kolaborasi ini.
Dengan potensi biodiversitas yang tinggi, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain utama dalam pengembangan obat tradisional modern. Kolaborasi BRIN dan UNHAN menjadi contoh nyata langkah strategis menuju kemandirian farmasi nasional.(*)






















Tinggalkan Balasan