Skandal Pelatnas Panjat Tebing Makin Terbongkar, 10 Atlet Jadi Korban Kekerasan dan Pelecehan
Jakarta, Ekoin.co – Kasus dugaan kekerasan fisik dan pelecehan seksual di lingkungan Pelatnas panjat tebing memasuki babak serius.
Menteri Pemuda dan Olahraga, Erick Thohir, menegaskan pemerintah tidak akan berhenti sebelum penanganan kasus tersebut tuntas, menyusul bertambahnya jumlah atlet pelapor menjadi sepuluh orang.
Data dari Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) menunjukkan jumlah korban yang melapor kini mencapai sepuluh atlet, meningkat dari delapan orang sebelumnya, yang terdiri dari lima atlet putra dan tiga atlet putri.
Penambahan laporan ini memperkuat dugaan adanya persoalan sistemik dalam tata kelola pembinaan atlet.
Negara Hadir Lindungi Atlet
Erick Thohir menegaskan prinsip zero tolerance terhadap segala bentuk kekerasan di dunia olahraga, termasuk di pusat pelatihan nasional.
“Keselamatan, martabat, dan masa depan atlet adalah prioritas utama. Tidak ada tempat bagi kekerasan seksual dalam dunia olahraga Indonesia, termasuk pelatnas,” tegas Erick dalam keterangan resminya di Jakarta, Minggu (1/3).
Pemerintah, lanjutnya, menjamin kerahasiaan identitas para pelapor dan memastikan perlindungan penuh dari intimidasi maupun tekanan, termasuk menjamin kelangsungan karier para atlet.
Selain itu, pendampingan hukum dan psikologis jangka panjang juga didorong agar para korban tetap dapat menjalani pembinaan tanpa beban trauma berkepanjangan.
Sorotan pada Tata Kelola Pelatnas
Erick menilai kasus ini harus menjadi momentum evaluasi total terhadap sistem pembinaan dan pengawasan di pelatnas. Ia meminta penguatan mekanisme pelaporan yang aman, independen, serta berpihak kepada korban.
Menurutnya, reformasi tata kelola bukan hanya sebatas penyelesaian kasus, tetapi juga pembenahan struktur agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kita harus memastikan olahraga Indonesia bersih, aman, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Pernyataan FPTI dan Sikap Yenny Wahid
Sebelumnya, FPTI melalui Ketum Yenny Wahid menegaskan bahwa keselamatan dan martabat atlet merupakan prioritas utama organisasi.
FPTI menyatakan siap bekerja sama dengan aparat penegak hukum serta pihak terkait dalam mengusut tuntas dugaan kasus tersebut.
Yenny Wahid juga menekankan pentingnya keberpihakan penuh kepada korban serta perlindungan yang konkret bagi atlet muda. Ia mengingatkan agar proses hukum berjalan transparan dan tidak menimbulkan ketakutan bagi korban lain untuk melapor.
Kasus ini kini menjadi ujian serius bagi tata kelola olahraga nasional. Publik menanti langkah tegas pemerintah dan federasi untuk memastikan ruang pembinaan atlet benar-benar aman, profesional, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.























Tinggalkan Balasan